Hati-Hati, Bahaya Mengintai di Akun Netflix dan Spotify dari Penjual Tidak Resmi

Trend • 30 Juni 2020

Dalam masa karantina atau lockdown dinilai meningkatkan jumlah penggunaan Netflix dan Spotify.


Dikutip dari Reuters, Netflix sebagai layanan streaming terbesar di dunia memperoleh 15,8 juta pelanggan berbayar sepanjang periode januari hingga Maret 2020, jauh dibanding perkiraan sebelumnya yang hanya sebesar 7 juta pengguna. Sehingga total pengguna Netflix di seluruh dunia mencapai 182,9 juta pengguna.


Di lain pihak, Spotify juga mendapatkan pelanggan baru. Menurut pihak Spotify, berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama (Q1) tahun ini, jumlah pelanggan mencapai 130 juta. Angka ini meningkat 5% dibanding kuartal sebelumnya (Q4 2019) dimana saat itu jumlah pengguna spotify tercatat sebanyak 124 juta.


Tingginya tren penggunaan Netflix dan Spotify ternyata juga terjadi di Indonesia. Sehingga mulai bermunculan penjualan akun oleh penjual tidak resmi. Harga yang lebih terjangkau dari harga resmi membuat banyak masyarakat yang tertarik untuk membelinya. Namun siapa sangka, ternyata ada bahaya yang mengintai dibalik transaksi jual-beli akun.


Dikutip dari Kompas.com, salah satu bahaya menggunakan akun platform streaming lewat pihak ketiga ini adalah peluang phising. Hal ini memungkinkan tercurinya data penting, seperti e-mail, username, password, dan sebagainya. Lalu, potensi lain yang turut mengancam pengguna adalah pencurian data kartu kredit (carding).


Menurut praktisi keamanan siber Vaksin.com, Alfons Tanujaya mengatakan agar pembeli lebih waspada dengan tidak sembarangan mengklik tautan yang dikirim ke media apapun. Ditakutkan tautan tersebut bisa membawa malware yang bisa mengancam gadget pembeli.


Namun Alfons berpendapat jika akun yang dijual dalam bentuk kredensial atau sudah tersedia username dan password, secara teknis hal itu cukup aman dari eksploitasi. Karena pembeli hanya memasukkan kredensial akun streaming yang diberikan penjual.