Hati-hati! Transaksi Yang Dilarang Dalam Ekonomi Islam

Jum'at Barokah • 05 April 2020

Praktik transaksi atau yang lebih dikenal dengan jual-beli sudah menjadi kegiatan primer dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, segala tatacara transaksi yang baik dan benar sudah tertuang dalam ilmu Muamalah (Ekonomi Islam) . Dengan adanya pegangan hukum yang sesuai dengan syariat Islam dan dijalankan dengan benar, maka tidak akan muncul permasalahan saat melakukan transaksi.


Namun sayangnya dalam praktik sehari-hari, masih banyak yang belum menjalankannya dengan benar. Sehingga praktik-praktik yang tidak sesuai dengan ilmu muamalah pun masih menjamur hingga saat ini.


Untuk itu, agar terhindari dari praktik transaksi yang menimbulkan mudharat, perlu ada pemahaman mengenai jenis transaksi yang dilarang menurut ilmu muamalah. Berikut jenis transaksi yang dilarang berdasarkan sumber sebab pelarangannya.


1. Dilarang karena mekanisme akadnya


– Judi (Masyir): Transaksi yang mempertaruhkan sebagian hartanya dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan lebih besar. Contoh: Taruhan skor bola


– Tidak jelas (Gharar): Transaksi barang yang tidak pasti; tidak nyata bentuk, wujud, dan hal lain pada barang yang akan dibeli tersebut. Contoh: Jual beli hewan yang masih dalam kandungan.


– Bunga (Riba): Pengambilan tambahan, baik dalam transaksi maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan ajaran Islam. Contoh: Bunga dalam peminjaman bank.


2. Dilarang karena pelaku akadnya


– Tidak Ridho (Dipaksa): Pelaku dipaksa untuk melakukan akad transaksi. Contoh: Dipaksa ikut bisnis MLM.


– Penipuan (Tadiis): Transaksi yang berupaya untuk merugikan pembeli dengan cara memberi barang yang tidak sesuai atau tidak memberikan barang sama sekali. Contoh: Pembelian masker yang ternyata isinya hanya kumpulan kardus.


– Menimbun (Ihtikhar): Menyetok barang hingga membuat jumlah barang langka di pasaran, kemudian menjualnya dengan harga melewati batas harga normal. Contoh: Penimbunan bahan bakar kendaraan / BBM.


– Merekayasa permintaan (Tanajusy/Nasjsy): Membuat rekayasa pasar dengan membuat skenario tingginya permintaan terhadap suatu barang dengan harapan bisa meningkatkan harga jualnya. Contoh: Mengundang teman datang ke toko sehingga toko tersebut bisa terlihat ramai. Sehingga akan menarik calon pembeli untuk membeli barang yang sudah dinaikkan harganya.


– Menyembunyikan kecacatan (Ghisysy): Upaya menonjolkan keunggulan secara berlebihan dengan dalih ingin menutup kekurangan barang. Contoh: Menjual duku busuk di antara stok yang bagus.


– Membahayakan / merugikan (Dharar): Transaksi yang bisa mengandung unsur merugikan, kerusakan, hingga penganiayaan. Contoh: Membuka toko yang berdampak membuat keuntungan toko serupa di sekitarnya menjadi berkurang.


– Harga menipu (Ghabn / Ghabn Fahisy): Tidak seimbang atau sesuainya nilai barang dengan harga barang yang ditawarkan. Contoh: Harga masker yang normalnya 35 ribu dijual menjadi 250 ribu.


– Suap / Sogok (Risywah): memberikan sejumlah barang atau uang dengan harapan segala urusannya dipermudah, termasuk urusan yang bathil. Contoh: Memberi sejumlah uang agar dipermudah untuk masuk ke sekolah favorit.


3. Dilarang karena objek akadnya


– Barang haram: Menjual barang yang sepenuhnya mengandung mudharat. Contoh: menjual narkoba.


– Jual barang yang tidak dimiliki (Bai’ al-ma’dum): Barang yang dijual tidak ada saat melakukan akad transaksi. Contoh: Jual beli bulu domba yang masih melekat di domba.


Pastikan setiap transaksi yang kamu lakukan tidak tergolong di atas agar tidak termasuk ke golongan orang-orang yang zhalim ya, sob!Top of Form