Ibnu Sina, Cendikiawan Muslim Berpengaruh di Dunia Kedokteran Modern

Jum'at Barokah • 05 Juni 2020

Dalam dunia kedokteran barat, ada salah satu sosok yang cukup berpengaruh bernama Avicenna. Melalui karyanya, ia memberikan beberapa informasi penting mengenai ilmu pengobatan yang akhirnya menjadi rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Namun siapa sangka, sosok yang bernama Avicenna tersebut ternyata merupakan seorang muslim. Dan melalui catatan sejarah, Avicenna adalah nama lain dari seorang cendikiawan muslim, Ibnu Sina.


Kisah Kecil Ibnu Sina


Ibnu Sina yang memiliki nama asli Abu Ali al-Husain bin Abdallah bin Sina lahir pada 370 H/980 M di sebuah kota kecil bernama Afsyahnah dekat Bukhara, Uzbekistan. Ia merupakan anak dari seorang pendidik sekaligus pegawai tinggi pada masa Dinasti Samaniah (204-295 H/819-1005 M).


Sedari kecil, Ibnu Sina sudah diajarkan untuk mencintai ilmu oleh ayahnya. Bukan tanpa sebab. Selain karena lahir di keluarga yang berlatar belakang pendidikan yang tinggi, Ibnu Sina ternyata memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari anak seusianya.


Jerih payah ayahnya yang terus-menerus mengajari Ibnu Sina mulai membuahkan hasil. Pada usia 10 tahun, Ibnu Sina mampu menghafal dan mempelajari Al-Qur’an. Selain itu ia juga mempelajari ilmu agama dan ilmu sastra. Beranjak ke usia 16 tahun, Ibnu sina mulai memahami ilmu logika, ilmu astronomi kuno dan ilmu arsitektur. Dan pada usia ini pula ia mulai mempelajari ilmu kedokteran.


Jejak Awal Kiprahnya di Dunia Kedokteran


Dengan ketekunannya, ia akhirnya mendalami ilmu kedokteran dan berhasil mengobati orang-orang yang sakit. Kemudian namanya mulai dibicarakan atas pencapaiannya tersebut hingga terdengar ke Istana Samani. Hingga suatu ketika, seorang penguasa Dinasti Samaniah bernama Bukhara Nuh bin Mansur mengalami sakit keras. Sudah banyak tabib dan ahli kedokteran yang berusaha menyembuhkannya, namun tetap saja tidak membuahkan hasil. Akhirnya Bukhara meminta Ibnu Sina datang dan membantu mengobati dirinya. Setelah Bukhara berhasil sembuh atas pengobatan tersebut, kepopuleran Ibnu Sina sebagai dokter tersebar ke penjuru negeri.


Penguasa tersebut hendak memberikan penghargaan, yaitu meminta Ibnu Sina untuk menetap di Istana hingga sang penguasa sembuh total. Namun Ibnu Sina menolak. Sebagai gantinya, ia meminta agar dirinya diizinkan untuk mengunjungi perpustakaan istana Samani yang memiliki koleksi buku yang beragam dan lengkap.


Ibnu Sina Sang Pemburu Ilmu


Dari perpustakaan istana inilah Ibnu Sina kembali memperluas pengetahuannya. Selain ilmu kedokteran, ia berhasil memperdalam ilmu pengetahuan lain dan bahan-bahan penemuan. Hingga akhirnya pada usia 18 tahun, Ibnu Sina berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu yang selama ini dipelajarinya, seperti hikmah, mantiq, matematika dan berbagai cabangnya. Selain itu ia juga telah menjadi ilmuan fisika. Karena reputasinya baik dan sangat dihormati, akhirnya dirinya diangkat menjadi seorang dosen.


Atas kecerdasan yang dimilikinya, Ibnu Sina diangkat menjadi menteri pada masa pemerintahan Abu Tahir Syamsud Daulah Deilami. Namun jabatan tersebut tidak menjadi penghalang baginya untuk terus mempelajari ilmu. Suatu ketika, terjadi konflik politik di masa pemerintahan tersebut. Dan diduga ada lawan politik yang tak senang dengan dirinya, Ibnu Sina tersandung konflik berupa fitnah. Kemalangan yang datang tanpa bisa dihindari, Ibnu Sina akhirnya dijerumuskan ke penjara selama 4 bulan.


Namun siapa sangka, setelah dilanda kemalangan pun semangatnya terhadap  ilmu tidak pernah padam. Dari balik jeruji, justru ia berhasil menulis buku yang menjadi salah satu mahakaryanya, As’syifa’. Buku ini terdiri dari 18 jilid. Di dalamnya, Ibnu Sina membagi ilmu pengetahuan menjadi empat, yaitu logika, metafisikan, fisika, dan matematika.


Menginjak usia 22 tahun, Ibnu Sina kehilangan sang ayah yang selama ini menjadi suri tauladan baginya. Setelah ayahnya meninggal, Ibnu Sina memutuskan untuk mulai berkelana demi menyebarkan dan mencari ilmu baru.


Lokasi pertama yang menjadi persinggahannya adalah Jurjan, kota yang terletak di timur tengah. Disini ia bertemu dan berguru dengan seorang sastrawan dan ulama besar Abu Raihan Al-Biruni. Lokasi persinggahan kedua adalah Rayy dan Hamadan, kota dimana Ibnu Sina kembali membuat salah satu mahakaryanya, Qanun fi Thib. Seakan tak bosan mengejar dan menyebarkan ilmu, Ibnu sina kembali berkelana. Lokasi persinggahan keempatnya adalah Iran. Dan di sepanjang perjalanannya tersebut, Ibnu sina banyak melahirkan banyak karya-karya yang memberikan banyak manfaat, khususnya dunia kedokteran.


Karya yang Lahir dari Buah Pikir Ibnu Sina


Ibnu sina merupakan sosok yang rajin menulis. Selama masa hidupnya tercatat ada 14 karya tulis yang berhasil ditulisnya. Adapun buku-buku karya Ibnu Sina tersebut adalah sebagai berikut:


  1. As-Syifa’, buku tentang penemuan dan penyembuhan. Terdiri dari 18 jilid dan isinya terbagi atas 4 bagian, yaitu logika, fisika, mastematika, dan metafisika.
  2. Al-Qanun fi-Tibb (The Canon of Medicine), buku tentang ensiklopedi ilmu kedokteran yang cukup lengkap.
  3. Buku ilmu kedokteran.
  4. Al-Musiqa, buku tentang musik.
  5. Al-Mantiq, diperuntukkan bagi Abul Hasan Sahli.
  6. Qamus el-Arabi, terdiri atas lima jilid.
  7. Danesh Nameh, buku tentang filsafat.
  8. Uyun-ul Hikmah, buku tentang filsafat terdiri atas 10 jilid.
  9. Mujiz, kabir wa Shaghir, buku yang menerangkan tentang dasar – dasar ilmu logika lengkap.
  10. Hikmah el Masyriqiyyin, buku tentang falsafah timur.
  11. Al-Inshaf, buku tentang keadilan sejati.
  12. Al-Hudud, buku yang berisi istilah-istilah dan pengertian-pengertian yang dipakai di dalam ilmu filsafat.
  13. Al-Isyarat wat Tanbiehat, buku yang membahas lebih banyak tentang dalil-dalil dan persetujuan – ajaran tentang ketuhanan dan keagamaan.
  14. An-Najah, buku tentang kebahagiaan Jiwa.

Akhir Hayat Ibnu Sina


Semangatnya dalam meneliti dan menulis buku tak pernah surut, bahkan hingga ia beranjak dewasa. Kebiasaan yang workaholic memang sukses melahirkan banyak karya besar, namun siapa sangka pada akhirnya berdampak buruk pada kesehatannya sendiri. Kebiasaan Ibnu sina tersebut pernah ditegur oleh kawannya, namun Ibnu Sina menolak dan lebih memilih berumur pendek namun penuh makna dan karya. Dan karena kebiasaan ini pula lah Ibnu Sina diketahui tidak pernah menikah.


Setiap kali Ibnu Sina mengalami buntu dengan penelitian dan tulisannya, ia melakukan shalat sunnah 2 rakaat. Menurut pengakuannya, ia seringkali mendapat inspirasi kembali setelah shalat atau dalam mimpi tidurnya.


Sebelum berada dalam penghujung hidupnya, Ibnu Sina sempat mendatangi setiap orang yang dahulu ia sembuhi untuk meminta maaf. Selain itu, ia juga membagikan hartanya untuk fakir miskin.


Ibnu Sina akhirnya meninggal pada hari jum;at di bulan Ramadhan 428 H di kota Hamdan, Iran, di usianya yang menginjak 58 tahun. Menurut pengakuan sekretarisnya, Al-Jauzakani, Ibnu Sina meninggal akibat kelelahan.


Berkat kerja keras selama hidupnya, Ibnu Sina menyumbangkan ilmu yang banyak melalui berbagai karya yang ditulisnya. Walau sudah berabad-abad setelah ketiadaannya, ilmu dan karyanya bahkan masih digunakan hingga saat ini. Bahkan, Karyanya yang berjudul Al-Qanun fi-Tibb masih menjadi rujukan di dunia kedokteran. Tak heran jika Ibnu Sina diberi gelar ‘bapak kedokteran modern’.