Penutupan McD Sarinah Picu Kerumunan Massa, Ada Pelanggaran PSBB?

Trend • 12 Mei 2020

Gerai McDonald’ Sarinah direncanakan akan ditutup pada 10 Mei 2020. Hal ini dipicu atas permintaan pihak sarinah yang ingin merenovasi dan mengubah konsep gedung tersebut. Keputusan ini pun ditanggapi segelintir netizen. Dan pada hari penutupan, muncul kerumunan massa yang mengaku ingin bernostalgia menjelang penutupan gerai pertama McDonald’s di Indonesia tersebut.


Ternyata aksi di depan sarinah tersebut mencuri perhatian netizen lainnya. Namun bukan pujian yang dituai, justru cibiran yang membanjiri lini masa Twitter.

Bukan tanpa sebab netizen geram. Mengingat saat ini Indonesia masih dalam status darurat pandemi COVID-19, dan Jakarta merupakan salah satu wilayah yang sedang menjalankan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Mereka mengganggap bahwa kerumunan tersebut lebih mementingkan ego ketimbang pandemi COVID-19 yang trennya saat ini masih terus meningkat, terutama di Jakarta sebagai episentrumnya. Netizen cemas akan muncul klaster baru dikarenakan kerumunan massa tersebut.


Berikut beberapa cuitan netizen di lini masa Twitter.


Massa Dibubarkan Polisi


Polisi akhirnya membubarkan kerumunanan massa yang berkumpul di depan McDonald’s Sarinah. Dikutip dari CNN Indonesia, Kapolsek Metro Jakarta Pusat AKBP Guntur Muhammad Thariq mengatakan langkah tersebut diambil demi mencegah timbulnya klaster baru penyebaran COVID-19. Untuk itu pembubaran dilakukan secara cepat.


Sebelumnya, pihaknya sempat dihubungi oleh McDonald’s Sarinah. Mereka meminta bantuan pengamanan dikarenakan panjangnya antrean masyarakat yang membeli di gerai tersebut. Untuk itu, akhirnya diterjunkan beberapa personel kepolisian, Satpol PP, dan TNI ke lokasi untuk melakukan pengamanan.


Namun, pihaknya tidak langsung membubarkan massa. Terutama bagi masyarakat yang tertib mengantre dan tetap mematuhi aturan PSBB.


Tepat pada pukul 22.00 WIB, McDonald’s Sarinah resmi ditutup. Dan calon pembeli yang tidak terlayani akhirnya turun ke area parkir. Pada saat inilah terjadi kerumunan massa.


Menurut Guntur, pihaknya melakukan pembubaran massa secara persuasif. Untungnya, masyarakat mau mengikuti anjuran tersebut dan akhirnya membubarkan diri.


Mengenai sanksi, Satpol PP DKI Jakarta hanya memberikan teguran keras kepada pengelola dikarenakan menyelenggarakan kegiatan yang bersifat seremonial.