Waspada Praktek Riba Dalam Bisnis!

Jum'at Barokah • 28 Februari 2020

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak akan terelakkan untuk terlibat dalam dunia ekonomi. Mulai dari jual-beli, menabung di bank, investasi hingga pinjam-meminjam. Aktivitas tersebut akan selalu kita temukan setiap hari. Namun apakah kamu sadar, ada satu tindakan ekonomi yang terus mengintai kita agar terjerat padanya, yaitu Riba. Sebenarnya apa itu Riba? Dan seberapa bahaya kah buat kita sebagai pelaku bisnis?

  • Pengertian Riba

Riba menurut bahasa berarti Zidayah (tambahan). Sedangkan menurut istilah teknis, riba merupakan pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil.


Menurut Yusud al-Wardawi, setiap pinjaman yang mensyaratkan didalamnya tambahan adalah Riba. Sedangkan menurut Qadi Abu Bakar ibnu Al Arabi dalam bukunya “Ahkamul Quran” menyebutkan defenisi Riba adalah setipa kelebihan antara nilai barang yang diberikan dengan nilai barang yang diterimanya.


Sehingga dapat disimpulkan bahwa Riba merupakan menetapkan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman sata pengembalian berdasarkan persentasi tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam.


Islam melarang setiap muslim untuk melakukan dan memakan hasil riba. Hal ini berdasarkan dari surah Al-Baqarah ayat 278 yang artinya:


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut), jika kamu orang yang beriman” (Q.S Al-Baqarah: 278)


Apa yang akan diterima oleh seorang muslim jika tetap melakukan riba? Allah SWT menyebutnya dalam surah An-Nisa ayat 161 yang artinya:


“Dan disebabkan karenaka mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami menyediakan untuk orang-orang kafir diantara mereka itu siksa yang amat pedih” (Q.S An-Nisa: 161)

  • Jenis Riba

Secara garis besar, riba terbagi menjadi 2 jenis, yaitu riba utang-piutang dan riba jual-beli.


1. Riba dalam transaksi utang-piutang


Riba hutang-piutang merupakan tindakan yang mengambil keuntungan lebih dari suatu hutang. Riba ini terbagi menjadi 2 macam, yaitu riba qardh dan riba jahiliyah.


– Riba Qardh

Adanya pesyaratan yang meminta si penerima hutang untuk mengembalikan hutang namun dengan meminta kelebihan nilai hutang sebagai bentuk ‘jasa peminjaman’ oleh si pemberi hutang. Contoh: Si A meminjamkan uang Rp 1.000.000 kepada si B. Si A meminta saat si B mengembalikan uangnya, nilainya harus Rp 1.100.000. Kelebihan Rp 100.000 dianggap sebagai ‘uang jasa pinjaman’.


– Riba Jahiliyah

Adanya tambahan pada nilai utang dikarenakan si penerima hutang tidak dapat mengembalikan utang tepat waktu kepada si pemberi hutang. Contoh: Si A meminjamkan uang kepada si B dengan tenggat waktu 5 bulan sudah harus dilunasi. Namun hingga jatuh tempo, si B tidak dapat melunasi utangnya. Lalu si A memberikan tenggat waktu tambahan dengan syarat nilai hutang yang harus dibayar si B ditambah dari nilai hutang awal.


2. Riba dalam transaksi Jual Beli


Riba dalam transaksi Jual Beli merupakan penambahan nilai barang yang diberikan oleh konsumen. menjadi 2 macam, yaitu riba fadhl dan riba nasi’ah.


– Riba Fadhl

Pertukaran atau jual beli barang dengan kuantitas, kualitas, atau kadar takaran yang berbeda dengan maksud untuk mengambil keuntungan. Contohnya: Logam mulia emas 5 gram ditukar dengan logam mulia emas 3 gram. Kelebihan 2 gram tersebut disebut riba.


– Riba Nasi’ah

Riba yang terjadi karena adanya pembayaran atau pertukaran yang tertunda pada saat melakukan transaksi jual-beli. Contohnya: Seorang penjual buah ingin membeli buah yang masih belum matang milik orang lain. Penjual akan membeli buah itu untuk dijual kembali pada saat buah tersebut sudah matang atau layak dipetik.


Demi meraup untung, jangan sampai kamu tersandung riba ya. Karena ingat, akan ada azab pedih yang menanti bagi mereka yang melakukan dan memakan hasil riba. Semoga kita semua dijauhkan dari praktek Riba, Aamiin.